close
Kanal

Tim Olimpiade Musim Dingin Haiti Tampilkan Semangat di Tengah Krisis

Penulis: Hanif Rusli
05 Feb 2026, 12:40 WIB

Desainer Italia-Haiti, Stella Jean (tengah) merancang seragam tim Haiti yang dikenakan Richardson Viano dan Stevenson Savart di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026. (Foto: AP)

Kehadiran Haiti di Olimpiade Musim Dingin 2026 Milan-Cortina menjadi simbol kuat ketangguhan sebuah negara tropis yang tengah menghadapi berbagai krisis.

Negara Karibia tersebut mengirim dua atlet ski yang tampil membawa kebanggaan nasional, meski harus menyesuaikan desain seragam mereka setelah mendapat intervensi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Seragam tim Haiti dirancang oleh desainer Italia-Haiti, Stella Jean.

Awalnya, seragam tersebut menampilkan gambar Toussaint Louverture, mantan budak yang memimpin revolusi Haiti dan mendirikan republik kulit hitam pertama di dunia pada 1804.

Namun, IOC menilai gambar tersebut melanggar aturan Olimpiade yang melarang simbol politik.

Jean akhirnya menghapus sosok Louverture dari desain, tetapi tetap mempertahankan simbol kuda merah yang menjadi elemen utama.

Jean menjelaskan bahwa aturan Olimpiade memang harus dihormati, namun kuda merah tersebut tetap menjadi lambang semangat Haiti.

Desain seragam menampilkan latar tropis dengan tulisan “Haiti” di bawah langit biru.

Ia juga merancang busana khusus bagi atlet perempuan dengan aksesori anting emas dan tignon, penutup kepala tradisional yang memiliki makna sejarah dalam budaya Haiti.

Kehadiran Haiti di Olimpiade Musim Dingin memiliki makna lebih dalam, mengingat negara tersebut masih menghadapi ketidakstabilan politik dan keamanan.

Sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moïse pada 2021, kekerasan geng meningkat drastis, bahkan menguasai sebagian besar ibu kota Port-au-Prince.

Dalam situasi sulit tersebut, partisipasi di Olimpiade menjadi simbol harapan dan ketahanan bangsa.

Dua atlet yang mewakili Haiti adalah Richardson Viano dan Stevenson Savart. Viano, 23 tahun, menjadi atlet Olimpiade Musim Dingin pertama Haiti pada Beijing 2022.

Ia diadopsi keluarga Italia di Prancis sejak usia tiga tahun dan awalnya berkompetisi untuk Prancis sebelum bergabung dengan federasi ski Haiti.

Ia menilai keikutsertaannya sebagai kesempatan menampilkan sisi positif Haiti di mata dunia.

Savart, 25 tahun, menjadi atlet ski lintas alam Olimpiade pertama Haiti. Ia juga diadopsi keluarga Prancis dan memilih membela Haiti setelah gagal lolos seleksi tim Prancis.

Meski tidak menargetkan kemenangan, ia mengaku bangga bisa membawa nama negaranya di ajang internasional.

Kehadiran kedua atlet di Olimpiade Musim Dingin ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat Haiti serta diaspora di berbagai negara.

Partisipasi mereka membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi sebuah bangsa untuk tetap hadir dan bersuara di panggung dunia.

Artikel Tag: olimpiade, Olimpiade Musim Dingin

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru